Entri Populer

Kamis, 01 Desember 2011

7 PRINSIP SEORANG PENYEMBAH Prinsip Ketiga, Menyembah Bapa dalam Roh dan Kebenaran

7 PRINSIP SEORANG PENYEMBAH
Prinsip Ketiga, Menyembah Bapa dalam Roh dan Kebenaran

“Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.” – Matius 28:17a

Kebiasaan orang percaya, seperti yang diperlihatkan para murid, adalah menyembah. Demikian juga yang diperlihatkan Daniel dalam Daniel 6:11, ”Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.”
Para penyembah Bapa, akan menyembah-Nya dalam Roh dan kebenaran. Larena Bapa adalah Roh adanya. Sebagaimana yang dikatakan Yohanes dalam Yohanes 4:23-24, ”Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
Bagaimana pemahaman kita tentang penyembah yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran? Ada dua hal yang harus diketahui, yaitu:

1. Roma 10:10, yang berbunyi, ”Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Dengan hati, orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Jika keduanya dapat membenarkan seseorang untuk diselamatkan, tentulah keduanya dapat membawa orang masuk hadirat-Nya untuk menyembah Bapa.
A. Dengan hati percaya.
Penyembahan dan keselamatan adalah dua hal yang saling terkait. Amanat Agung memang menekankan tentang keselamatan, tetapi dimulai dulu dengan sebuah penyembahan dari murid-murid-Nya. Penyembahan harus dilakukan dengan hati yang percaya, sehingga dibenarkan dan dengan mulut yang mengaku, sehingga diselamatkan. Artinya penyembahan yang dilakukan, sesuai dengan Amanat Agung.
Penyembahan harus dilakukan dengan hati, bukan hanya pikiran saja. Sekalipun otak kanan berhubungan dengan hati (perasaan). Dengan berserah penuh bahwa Pribadi yang kita sembah, sungguh hadir dalam hati kita. Pribadi ini sedang melakukan suatu aktifitas spiritual yang tidak dapat ditur oelh manusia. Dengan demikian, barulah hati kita bisa dilepaskan dari konsep duniawi. Penyembahan demikian adalah penyembahan yang mengandalkan roh. Ketika roh kita sedang bersekutu dengan Tuhan, kita akan semakin merasakan kehadiran Roh Kudus, jika kita semakin berserah pada-Nya.
B. Dengan mulut mengaku.
Ketika mulut kita mengaku akan Dia, maka atmosfir surgawi akan dinyatakan dalam penyembahan.
Dapat kita bayangkan bagaimana jika kita melakukan penyembahan seperti ini? Perkara besar akan terjadi! Hadirat-Nya sedang mengkondisi kita!  

2. 1 Korintus 14:14-15, berbunyi, ”Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.”
Ketika kita berdoa dalam roh, sesungguhnya akal budi kita tidak turut berdoa. Demikian juga sebaliknya.
Yang benar, keduanya harus kita lakukan. Dengan demikian, penyembahan dalam roh dan kebenaran, dapat dilakukan dalam bahasa roh dan bahasa manusia (akal budi). Penyembahan demikian akan berbeda dengan penyambahan agamawi. Penyembahan inilah yang kita harapkan, sehingga bisa merubah atmosfir ibadah.

Jika ini yang terjadi, maka perkara-perkara besar akan terjadi dalam ibadah. Ketika beribadah, kita akan merasakan Roh Kudus datang dan menjamah kita, secara fisik maupun jiwa. Jika Roh Kudus sudah bekerja, tidak ada seorangpun yang mengerti. Terkadang, perkara-perkara besar yang aneh pun terjadi.
Salah satu perkara aneh yang pernah terjadi dalam ibadah adalah ketika gigi yang berlubang dari seorang jemaat, disembuhkan Tuhan. Ketika kemuliaan Tuhan menjamahnya dalam penyembahan, giginya yang berlubang seperti mendapat ”tambalan”. Hasilnya, gigi yang tadinya berlubang menjadi seperti gigi baru lagi, seperti aslinya. Masih banyak lagi perkara besar yang aneh terjadi dalam ibadah.
Gereja dan kita harus mengalami pengalaman seperti ini! Penyembahan sangata erat hubungannya dengan Amanat Agung. Ketika kita dan gereja menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran, maka pertobatan pun terjadi. Di gereja akan banyak didatangi jiwa-jiwa yang haus dan rindu akan jamahan Tuhan, sehinga jiwa-jiwa baru pun bertambah.
Pekerjaan Tuhan seperti ini juga terjadi di abad ke duapuluh ini. Seperti yang pernah terjadi di Toronto, Canada dan Pensacola, Amerika Serikat. Penyembahan dalam ibadah dalam kedua tempat ini, telah membawa jutaan jiwa mengalami perjumpaan dengan Tuhan. YES

Tidak ada komentar:

Posting Komentar