Entri Populer

Rabu, 27 Februari 2013

KETUNDUKAN &KERENDAHAN HATI BERBUAH KESUKSESAN!



Exclusive Interview with Herpiyanto, Direktur Utama PT. Hosanna Utama, Pontianak


KETUNDUKAN & KERENDAHAN HATI
BERBUAH KESUKSESAN!

“Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." – 1 Petrus 5:5

Sahabat, ayat di atas mengingatkan kita bahwa Tuhan sangat menyukai ketundukkan dan kerendahan hati. Orang yang memilki kedua karakter di atas, akan menyukakan hati-Nya. Dengan kedua karakter ini, seseorang akan membangun kehidupannya, yang berbuah kesuksesan!
Inilah yang dialami Herpiyanto (27), seorang muda yang sukses dalam kehidupannya. Dalam usia yang masih muda, telah menjabat sebagai Direktur Utama sebuah perusahaan property yang maju, di Pontianak. Tetapi posisi dan keadaan seperti ini, dicapainya dengan suatu perjuangan berat, bersama Tuhan, dan istrinya.
Bagaimana seorang muda, berasal dari kampung Kubu, dari latar belakang keluarga yang kurang harmonis, dan kurang berpendidikan, tetapi bisa bangkit dari keterpurukannya, menuju ke dalam kehidupan yang diberkati.
Pada kesempatan ini, saya berkesempatan untuk mewawancarai, bapak muda berpenampilan sederhana ini, dlam sebuah wawancara eksklusif, selesai ibadah doa, di gedung Graha Mazmur 21, Pontianak. Wawancara ini, telah dikemas sedemikian rupa, untuk menjadi berkat bagi para pembaca. Temukan juga 7 Kiat sukses, yang sudah dipraktekkannya dan teruji kedahsyatannya. Silahkan membaca.....

YAKOBUS EDY SUSANTO (YES) : Bagaimana latar belakang kehidupan Anda?
HERPIYANTO (HERPY) :
Saya lahir di sebuah kampung kecil yang bernama desa Sungai Palas, 27 tahun lampau. Saat ini, kampung itu sudah tidak ada lagi. Bahkan namanya juga tidak tertera di peta, karena kampung itu sudah hancur dan ditinggalkan penduduknya. Saat ini, hanya tinggal sebatang pohon kelapa yang masih ada di situ. Saya masih sempat lewat dii situ, beberapa waktu lalu.
Kemudian, pada usia 2 tahun, kami sekeluarga pindah ke sebuah kampung kecil di daerah pedalaman, Kecamatan Kubu, yang nota bene cukup terisolasi dari dunia luar, sehingga jauh dari fasilitas-fasilitas kehidupan. Baik fasilitas untuk belajar, maupun pengembangan diri, sangat kurang. Karena sulitnya bersekolah, maka dari segi pendidikan pun, saya sangat kurang. Di sana tidak ada Sekolah Mengengah Pertama (SMP). Jadi kebanyakan penduduk hanya bersekolah sampai Sekolah Dasar (SD) saja. Akhirnya setelah ada yang lulus SD dan tidak bisa melanjutkan lagi karena tidak adanya SMP, maka didirikan juga sebuah SMP “seadanya”, yang didukung oleh beberapa guru, yang mengajar di SD sebelumnya. Hidup kami di kampung yang agak terisolasi, membuat kami hidup dengan keterbatasan. Dengan minimnya pendidikan, membuat wawasan dan pengetahuan kami juga kurang.

YES : Bagaimana kondisi keluarga (orang tua) saat itu?
HERPY:
Papa saya memiliki tiga istri. Saya adalah anak dari istri termuda (ketiga). Dari mama, papa mendapat 2 anak, selain saya, masih ada kakak. Karena papa memiliki 3 istri, maka kasih dan perhatiannya pun terbagi-bagi. Dari kecil, saya dididik dengan keras, dalam kondisi orang tua yang belum mengerti tentang bagaimana seharusnya mendidik anak dengan caranya Tuhan, karena orang tua belum bertobat. Ketika itu. Jika kami berbuat salah dalam perkataan atau perbuatan, kesalahan dalam bekerja, menjatuhkan barang, akan langsung dihajar.
Saya memiliki hubungan yang tidak baik dengan orang tua (terutama papa). Dari kecil, sampai ketika saya sudah mengerti tentang kehidupan (sekitar usia 10 tahun), relasi dengan orang tua, tetap tidak baik. Begitu buruknya komunikasi kami, sampai mau berbicara dengan orang tua saja sangat susah. Jadi hanya bicara seperlunya saja. Lebih dari itu, tidak bisa. Mau bertanya akan sesuatu pun tidak berani, karena takut dimarahi. Suasana ini membuat kami tidak tenang, tidak ada damai rasanya.
Sehari-harinya, kami tidak bisa hanya berdiam di rumah saja, harus bekerja. Jika kami tidak bekerja, pasti kena marah. Segala pekerjaan yang kami lakukan pun, hanya karena kami takut saja, bukan karena kerelaan.

YES : Ketika beranjak remaja, apakah masih mengalamai hal yang sama?
HERPY:
Masih. Beranjak remaja, karena merasakan kurangnya kasih dan perhatian dalam keluarga selayaknya anak, saya mulai mencari kasih dan perhatian dari luar. Selain fasilitas pendidikan yang minim, kami juga dilarang bersekolah. Jadi kami bersekolah hanya sampai SMP saja. Pendidikan yang kami peroleh, sangat rendah. Orang tua lebih mementingkan kami bekerja daripada bersekolah. Saya diminta untuk bekerja dan melanjutkan usaha orang tua. Padahal saya tidak mau. Saya tetap ingin bersekolah. Tetapi karena takut, saya tetap mengikuti kemauan papa, berhanti sekolah dan bekerja.

YES : Anda mengalami kurangnya kasih dan perhatian keluarga, bagaimana solusi yang Anda lakukan waktu itu, untuk memenuhi kebutuhan ini?
HERPY :
Saya mulai “berpetualang” di luar, mencari kasih dan perhatian. Saya mulai berpacaran dengan sembarangan. Yang penting sama-sama suka, ya sudah, jalan. Hidup saya penuh dengan kegelapan. Saya mulai merokok dan jatuh dalam perjudian. Bahkan orang tua pun mendukung saya untuk berjudi, karena kalau menang akan dapat uang.
Ketika masa remaja pun, saya mulai berani memberontak dan melawan orang tua. Walaupun demikian, saya tetap masih merasa takut jika ketahuan berbuat salah dan berpacaran, tetapi berjudi tidak dilarang. Akhirnya, saya berpacaran diam-diam, backstreet (jalan belakang) istilahnya. Karena berpacaran sembarangan, saya jatuh dalam dosa yang lebih parah lagi, seks bebas.

YES : Apakah hal-hal yang Anda lakukan waktu itu, bisa menjadi solusi untuk mendapatkan kasih dan perhatian?
HERPY :
Hanya sesaat saja, setelah itu kembali lagi seperti ini. Dari hari ke hari, kehidupan kami masih berantakkan, seakan-akan tidak ada lagi pengharapan. Hingga suatu ketika, terjadi konflik keluarga. Mama menuntut suatu keputusan dari Papa. Mama minta agar Papa tidak lagi men-support keuangan untuk anak-anak dari istri keduanya, karena anak-anak itu, sudah beranjak dewasa dan sudah bisa bekerja mencukupi kebutuhan mereka. Persoalannya selama ini. Bukan hanya papa saja yang bekerja mencari uang, tetapi saya dan mama juga. Tetapi hasilnya banyak diberikan kepada anak-anak dari istri kedua itu.
Papa diminta untuk memilih. Masih men-support keuangan mereka, atau kami pergi. Saya yakin, sebenarnya ini juga keputusan yang sulit untuk Papa. Tetapi Papa tetap men-support keuangan istri keduanya. Akhirnya mama dan saya yang keluar. Ketika itu, kakak saya sudah menikah. Jadi mama dan saya pindah ke Surabaya. Sebelum berangkat, kami diantar oleh abang saya dari istri pertama Papa, yaitu Bp. Ayub (pernah diwawancarai oleh redaksi dalam Exclusive Interview Psalm 21 Magazine edisi Paskah 2011 - red). Sambil mengantar, abang saya yang sudah bertobat itu bersaksi tentang pertobatannya. Tetapi kami belum meresponi.
Sekitar satu bulan kami tinggal di sana. Entah mengapa, kami merasa tidak betah di sana. Padahal famili yang menanggung kami cukup mapan dan baik. Akhirnya kami kembali lagi ke Pontianak, dijemput dan tinggal serumah dengan abang saya tadi. Ketika itu, usia saya sekitar 17-18 tahun. Abang saya, Bp. Ayub itulah yang pertama kaili membawa saya ke gereja Psalm 21. Itu terjadi sekitar bulan Juni 2004. Saat itu, ibadah masih berlangsung di gedung Graha Air Kehidupan, jl. H. Abbas  1 no. 52 (sekarang menjadi kantor Psalm 21).

YES: Jadi sejak itu, Anda tinggal dengan abang dan mulai beribadah di Psalm 21?
HERPY:
Ya. Saya pertama kali datang beribadah, di Ibadah Doa (Sekarang disebut Winner Fellowship). Ketika itu, ibadah doa dilaksanakan pada setiap hari Kamis, pk. 18.00. Saya disambut oleh Ibu Ernawati. Setelah berkenalan, saya duduk di barisan pinggir. Ketika saya masuk ke ruang ibadah, masih berdiri di depan pintu, saya sudah merasakan sesuatu yang berbeda. Saat itu, saya masih belum mengerti mengenai hal yang saya rasakan itu. Saya merasakan, seperti ada suatu ketenangan dan kedamaian yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

YES : Bagaimana selanjutnya?
HERPY :
Sejak pengalaman itu, saya merasakan suatu kerinduan yang amat sangat untuk beribadah. Pada hari Minggu-nya, sekalipun saya belum diajak unuk beribadah (mungkin abang saya lupa), tetapi saya mau beribadah karena dorongan kerinduan yang kuat itu. Sejak itu, saya aktiif beribadah di Psalm 21 Successful Community atau yang biasa kita sebut juga Gereja sungai Yordan.

YES: Setelah aktif beribadah, kegiatan rohani apa yang Anda ikuti selanjutnya?
HERPY:
Setelah itu, saya langsung mengikuti SHDR (Seminar Hidup Baru dalam Roh / sekarang di sebut Kingdom Gathering). Dalam seminar itulah, saya sungguh-sungguh mengalami pemulihan. Saya sungguh sudah merasakan jamahan Tuhan yang luar biasa. Apalagi pada saat pelepasan dari kuasa jahat, seakan-akan sekujur tubuh sakit semua. Saat menerima baptisan Roh Kudus, saya merasa benar-benar “plong” lega.
Sejak pengalaman spiritual yang supranatural itu, saya benar-benar mengalami pemulihan. Rupanya di sinilah solusi dan jawaban dari kebutuhan akan kasih dan perhatian, yang selama ini saya cari. Sejak selesai mengikuti seminar itu, saya semakin rindu beribadah. Saya selalu berusaha untuk tidak absen di Ibadah Raya Minggu, sampai saat ini. Hanya satu kali saja saya tidak beribadah, karena hari itu, saya mengantar para “artis” drama kita untuk shooting di Singkawang. Tapi Itupun saya masih menyempatkan diri beribadah di Gereja Sungai Yordan Singkawang. Jika berada di luar kota pada hari Minggu, saya pasti akan mencari gereja setempat untuk beribadah.

YES : Bagaimana dengan dampak dalam ekonomi dan pekerjaan, setelah Anda aktif beribadah?
HERPY:
Walaupun saya sudah dipulihkan, tetapi masih ada pergumulan yang saya hadapi, terutama masalah ekonomi, karena saya nganggur. Sebelum saya bertobat, saya masih tingal di Kampung. Pekerjaan saya hanya membantu usaha orang tua. Ketika di Pontianak, saya bingung mau bekerja apa. Tidak memiiki modal, pemdidikan pun pas-pasan  saja. Saya memang lulus SMP, tetapi ketika bersekolah, guru-guru sering tidak masuk.
Karena tidak ada pekerjaan, sudah jelas tidak memiiki uang. Untuk makan sehari-hari saja sulit. Setiap hari, saya dan abang saya, pak Ayub, bangun subuh Pk. 04.00. Lalu kami berdoa, sampai pk. 06.00 pagi. Setelah itu, saya berangkat ke sekitar jl. A.Yani II. Tujuannya bukan untuk olah raga, tapi mencari kangkung dan genjer yang tumbuh liar, untuk dijadikan lauk. Setiap hari, kami menikmati cah kangkung dan genjer gratisan itu. Kalau mau beli, tidak ada uang. Tapi, puji Tuhan, sayur kangkung dan genjer yang kami nikmati sekeluarga, terasa sangat enak. Padahal sebenarnya saya benar-benar tidak suka makan kangkung maupun genjer. Bisa dibayangkan, setiap hari kami hanya makan nasi dengan lauk yang sama. Sesekali diselingi ikan asin.
Pergi ke gereja pun, saya harus berjalan kaki. Kami hanya ada satu motor, milik abang dan tentu digunakannya, bersama istri. Motor itupun sering rusak. Jadi, saya berjalan kaki dari jl. Sungai Raya Dalam, melawati RS. Soedarso. Jika ada uang, saya naik oplet (ketika itu, ongkos oplet masih Rp.1.000/orang). Terkadang juga menumpang dengan abang sepupu. Tapi jika tidak ada uang dan tumpangan, saya berjalan kaki, sampai di Gereja. Waktu itu, masih ibadah di Gedung Graha Air Kehidupan, Setia Budi. Jarak yang lumayan jauh, dari Sungai Raya Dalam ujung, sampai Jl. H. Abbas, Setia Budi. Tapi itulah yang biasa saya lakukan. Jika kita lakukan dengan sukacita, jarak yang jauh menjadi tidak terasa jauhnya. Peristiwa di atas terjadi sekitar tahun 2005. Pada tahun itu, memang terasa sangat sukar menjalankan kehidupan.
Setiap hari yang saya lakukan ialah bangun pagi jam 4 subuh, saat teduh. Sepulang dari mencari kangkung dan genjer, jam 8, saya mulai membaca Alkitab, sampai jam 11/12 siang, padahal saya tidak suka membaca. Tetapi karena rindu akan Tuhan yang menggebu-gebu, saya tetap membaca Alkitab. Setelah makan siang, saya istirahat sebentar, lalu jam 1 siang saya mulai membaca Alkitab lagi. Ini yang saya kerjakan setiap hari, sekitar 6 bulan, sambilan juga saya ikut pemuridan, persekutuan komsel, Ibadah doa dan Ibadah Raya di Gereja.

YES: Selanjutnya bagaimana? Anda mendapatkan pekerjaan?
HERPY:
Ya, akhirnya saya mendapat pekerjaan jadi buruh bangunan. Ditambah lagi segala pekerjaan halal lainnya yang mampu saya kerjakan. Saya juga membantu abang saya. Pak Ayub, membuka dan menjaga toko bangunannya. Sudah mulai dapat uang dari gaji, tetapi masih pas-pas-an. Jadi mau makan sesuatu yang lebih enak dan menikmati hidup yang lebih nyaman, belum mampu. Hampir setahun lamanya saya hidup dalam keadaan seperti ini.
Suatu hari, saya bermaksud untuk hidup mandiri dan pindah dari rumah abang saya, pak Ayub. Saya juga bermaksud mencari pengalaman dan pekerjaan yang baru. Namun abang saya tidak mengijinkan. Dia bilang sebaiknya saya jangan pindah, biarlah susah dan senang kita rasakan bersama saja. Akrinya saya putuskan tidak jadi dan saya bekerja penuh, membantu abang saya itu. Ketika itu, Ibu saya sudah ikut tinggal dengan kakak saya yang sudah menikah, di daerah Kota Baru.

YES: Selain dari pengalaman pertam kali mengikuti ibadah raya dan dipulihkan dalam SHDR, adakah pengalaman rohani lain yang paling berkesan, yang Anda alami?
HERPY:
Pernah. Suatu hari, saya mendapatkan semacam “panggilan”. Sepertinya Tuhan berbicara kepada saya. Awalnya, saya masih belum meresponi. Baru akhirnya saya menyadari kalau itu suara-Nya. Ketika itu, saya memandang ke langit dan tiba-tiba Tuhan berbisik dalam hati saya. Dia berkata, “Jangan pernah khawatir dalam hidupmu. Terhadap apapun yang akan engkau makan dan mnum.” Sambil duduk di atas gentong, saya menjawab, “Ya Tuhan, saya percaya. Mau apa lagi saya ini? Biarlah semuanya terjadi sekehendak Tuhan saja.”
Sejak mendengarkan suara  Tuhan itulah, saya mulai mengalami perubahan hidup. Saya sudah menjadi Kristen cukup lama, tetapi baru saat itu, saya mengalami suatu titik balik perubahan hidup yang lebih signifikan. Pemulihan mulai terjadi di segala aspek hidup saya.
Suatu hari, abang saya, pak Ayub membangun sebuah CV (Perusahaan, sekarang sudah menjadi PT). Dia sedang mencari tenaga kerja untuk mengelola perusahaan itu, sedangkan dia sendiri masih sibuk menangani toko bangunannya. Setelah sekian lama mencari, mungkn karena tidak menemukan orang yang cocok, akhirnya saya diminta untuk membantunya di perusahaan. Tidak tanggung-tanggung, saya langsung didudukan di posisi direktur perusahaan, Dalam hati saya berpikir, “Tidak salahkah abang memilih saya?” Awalnya saya menolak. Saya bilang, “Saya tidak berpendidikan dan tidak pengalaman. Saya tidak bisa apa-apa, nanti repot.” Namun ada seorang kawan yang meyakinkan saya. Dia berkata, “Kamu percaya saja, pasti Tuhan akan menyanggupkan.” Akhirnya, saya taat saja dengan perkataan abang dan menerima jabatan itu.
Sebagai pemilik dan pimpinan perusahaan adalah pak Ayub. Beliau adalah pengambil keputusan dan saya sebagai direktur sekaligus pengelola dan pelaksana. Tidak mudah menjadi pengelola, harus pandai berencana dan mengatur strategi, karena kita Anak Tuhan tidak mau main curang atau “main belakang”.  Jika saya hanya mengejar harta, mungkin segala cara curang, “jalan belakang”, bisa saya lakukan. Dan mungkin saya bisa lebih kaya dari abang saya. Tetapi oleh karena pertolongan Tuhan, saya disanggupkan untuk menghindar dan menolak segala tawaran iblis itu.
Disinilah saya belajar untuk tunduk kepada otoritas. Sampai saat ini, saya tidak pernah melawan abang saya itu. Sekali-kali bisa terjadi perbedaan pendapat, itu biasa. Tapi saya tidak pernah melawan setiap keputusannya. Saya hanya memberikan masukan. Puji Tuhan jika dia bisa menerimanya. Padahal saya tahu, sifat abang saya itu keras. Saya tahu karakternya. Sifat saya juga keras. Jika keras dihadapi dengan keras pula, apa jadinya? Saya lebih memilih untuk tunduk pada otoritas. Itulah sebabnya kami tidak pernah bertengkar. Setiap perselisihan, dapat diselesaikan dengan baik.

YES Bergerak dalam bidang apa, perusahaan itu?
HERPY :
Perusahaan kami bergerak di bidang perumahan/property.

YES : Apa proses selanjutnya yang Anda alami dalam pekerjaan, sampai bisa menjadi sukses?
HERPY:                                                                                                                                     
Proses yang sangat berliku dan panjang, tetapi memang harus kami lewati. Suatu hari, perusahan kami menerima proyek pertama, yaitu pembangunan Perumahan Barata Indah di jl. Ujung Pandang, daerah Kota Baru. Itu proyek perdana yang sangat menguras tenaga, pikiran dan pergumulan yang luar biasa. Oleh Karena anugrah Tuhan, abang saya, pak Ayub, bisa memenangkan tender untuk proyek perumahan itu. 
Setelah kami mendapatkan tender, kami mulai melobi ke Polda, karena perumahan itu adalah milik Kepolisian. Di situ, kami kembali mengalami banyak tantangan. Belum lagi kendala dilapangan, dimana masalah keuangannya yang belum mencukupi.
Ketika itu, saya melobi sanpai ke Mabes Polri, Jakarta. Ketika pertama kali pergi ke mabes Polri di lantai delapan, saya dijaga cukup ketat. Saya membawa beberapa berkas. Salah satu staf mereka mengatakan bahwa berkas yang saya bawa, harus di cek dulu dan itu memerlukan waktu yang lama, sekitar dua sampai tiga bulan. Saya terkejut dan berkata, “Wah, kog lama sekali? Sedangkan perumahan sudah dibangun, tinggal menunggu akad kredit.” Tetapi keputusannya tetap begitu.
Karena saya tidak “tahan hati” lagi, saya permisi ke toilet. Saat itu, saya mengalami ketakutan yang amat sangat. Karena, untuk modal pembangunan perumahan itu, saya pribadi sudah banyak utang, sekitar Rp. 1 Milliar.Saya takut,bagaimana  jika tidak bisa bayar?
Saya menangis dalam toilet. Dengan air mata yang mengalir, saya berdoa, “Tuhan, bagaimana ini? Katanya langsung OK, tetapi mengapa bisa seperti ini kejadiannya?” Tuhan menjawab saya seketika itu juga, “Kamu jangan takut, lakukan saja.” Saya menjawab, “OK. Tuhan!” Saya kembali menghadap salah satu staf kepolisian, lalu saya pulang dan menginap di Jakarta. Saya pulang dengan tangan hampa, dalam kondisi yang dihinggapi ketakutan. Tujuh belas hari saya ada di Jakarta.
Seturut dengan berjalannya waktu, campur tangan Tuhan mulai terlihat. Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya melalui seseorang yang membantu kita. Walaupun tidak bisa sepenuhnya membantu, melalui orang ini, akhirnya berkas-berkas saya bisa langsung diproses dalam waktu singkat. Setelah melakukan negosiasi dan lobi, akhirnya dalam satu bulan, kami bisa akad kredit.

YES :Sudah selesai? Atau masih ada proses selanjutnya?
HERPY:
Selesai satu bagian, tapi masih ada kelanjutannya, hutang masih belum bisa dilunasi sepenuhnya. Karena itu, pembangunan perumahan dijadikan dua tahap. Ketika mengurus proses berkas-berkas untuk pembangunan tahap kedua, saya melakukannya sendiri, tanpa bantuan orang lain lagi. Pengalaman melobi ke Mabes Polri sebelumnya, menjadi sesuatu yang berharga. Saya menjadi tahu seluk beluk kepoiisian,. Saya temui pembesar-pembesar kepolisian, para Jendral dan pemimpin kepolisian. Waktu itu, saya masih berusia cukup muda, 22 tahun. Saya pernah dibentak seorang Brigjen TNI-AL. Puji Tuhan saya tidak down dan bisa menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan, dengan tepat.
Puji Tuhan, akhirnya semua berjalan dengan baik. Pergumulan demi pergumulan terselesaikan. Bahkan terlalu banyak pergumulan yang terjadi dan tidak akan cukup jika diceritakan semuanya. Saya sering tidak bisa tidur, karena dicekam ketakutan yang amat sangat akibat pergumulan-pergumulan itu, takut gagal, takut tidak bisa bayar hutang yang menumpuk, dan ketakutan-ketakutan lainnya.Namun akhirnya, Tuhan mengangkay semua ketakutan itu, dan diganti dengan sukacita.

YES: Dari pengalaman di atas, hal-hal apa saja yang Anda dapatkan?
HERPY:
Banyak, pak. Tuhan terus memperlengkapi saya dengan kemampuan untuk mengelola dan kemampuan berbicara untuk melobi orang-orang. Saya terus belajar akan hal itu. Tetapi saya tidak merasa bahwa saya lebih pandai dari abang saya. Dia adalah pimpinan saya. Saya menghormatinya. Saya percaya, kemampuan yang Tuhan berikan memperlengkapi saya untuk bisa membantu abang menjalankan CV ini. 
Itulah pergumulan-pergumulan yang saya hadapi selama ini, baik secara pribadi, maupun pergumulan di CV. Sampai akhirnya kami bisa jadi seperti ini. Banyak orang, hanya bisa berkata, “Wah, masih muda, sudah bisa menjadi direktur, sudah sukses.” Tetapi mereka tidak tahu jika banyak proses dan pergumulan yang harus saya lewati untuk mencapai posisi seperti ini. Orang bisa lihat sekarang kami sudah punya modal miliaran. Tapi untuk mencapai ini semua, ada harga yang mahal, yang harus kami bayar dan proses demi proses, yang harus kami lalui.
Di dunia bisnis, hutang piutang, adalah hal biasa. Saya selalu menjaga kepercayaan orang. Setiap pnjaman yang diberikan, selalu saya usahakan untuk dikembalikan tepat waktu. Jika belum ada uang, saya tidak pernah menghindar, tetapi menghadapi dan menjelaskan kepada peminjam. Bahkan saya yang mendatanginya, sebelum didatangi. Jika dimarahi, saya tidak melawan, karena saya tahu, saya yang salah.  Saya tetap mau bayar, hanya belum ada uang.
Saya tidak pernah lari dari masalah, seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Selain hutang-piutang, masalah apapun yang terjadi, selalu saya hadapi. Seberat apun masalah itu, tinggal saya datang berdoa dan menyampaikan permasalahan itu kepada Tuhan, selalu ada jalan keluar yang diberitahukan-Nya.
Selain itu juga, saya banyak belajar tentang cara menghadapi berbagai karakter orang. Dari yang lembut seperti kapas, sampai yang keras seperti batu. Tuhan membentuk dan melatih saya, melalui pengalaman-pengalaman hidup yang sangat berharga. Sekalipun saya memiliki latar belakang pendiidikan yang kurang baik dan tidak pernah belajar ilmu komunikasi, tetapi pembelajaran dan pelatihan ini saya dapatkan dari pengalaman hidup dan Tuhan sendiri sebagai Guru saya.
 Seringkali, Tuhan berbicara langsung kepada saya, seperti saya biasa mendengarkan orang berbicara. Saya mendengar langsung suara Tuhan di telinga saya. Saya bersyukur jika Tuhan memperlengkapi saya dengan kemampuan intuisi seperti ini.

YES: Anda sukses dalam bisnis dan pasti sangat sibuk. Bagaimana Anda bisa mengatur waktu untuk bisnis dan kegiatan kerohanian?
HERPY :
Puji Tuhan, jika sampai saat ini, Tuhan masih mempercayakan saya untuk memimpin di perusahaan ini. Saking sibuknya, sepertinya saya membutuhkan waktu lebih banyak lagi. Kalau bisa, lebih dari 24 jam sehari. Sepertinya, waktu tidak pernah cukup untuk saya.Setiap hari selalu disibukan dengan pekerjaan. Hari Minggu, saya gunakan untuk ke gereja dan keluarga. Tetapi saya juga masih menyempatkan diri mengikuti Ibadah Doa hari Jumat dan persekutuan komsel hari Kamis.
Sejak tahun 2007 sampai sekarang, saya tidak pernah ambil cuti. Itulah sebabnya, saya mulai mengatur pekerjaan saya. Saya mulai merekrut karyawan untuk membantu pekerjaan saya. Terkadang, saking banyaknya pekerjaan, saya sampai terpaksa menolak tawaran-tawaran yang ada. Saya menerusan tawaran-tawaran itu kepada teman-teman lain. Padahal tawaran itu pasti akan menghaslkan uang.
Jika berbicara waktu, Anda tahu sendiri bagaimana sibuknya saya. Sebenarnya saya tidak memiliki waktu lagi. Tetapi saya masih tetap berusaha menyediakan waktu yang terbaik bagi Tuhan dan pelayanan.  Disitulah kita harus bisa membagi waktu dengan bijaksana. Seperti apa yang pernah dialami Musa ketika menangani bangsa Israel. Sampai akhirnya, sesuai dengan nasehat Yitro, mertuanya, dia mulai me-manage pekerjaannya dan membagi waktu. Hasilnya lebih maksimal. Itu juga yang saya lakukan sekarang. Semua pekerjaan kita, akan menjadi mudah, jika ada Tuhan yang memberikan hikamt, jika tidak, maka pekerjaan apapun yang dilakukan, akan terasa sulit.

YES : Di bidang apa saja. Anda terlibat pelayanan di gereja?
HERPY :
Saya melayani sebagai wakil koordinator Ibadah Raya II (Pk.10.00) dan saya juga memimpin sebuah komunitas sel.. Di setiap even saya tidak pernah ketinggalan dan selalu mendukung, baik tenaga, upaya, doa dan dana. Bahkan terkadang, kegiatan bisnis, saya tunda. Saya kurang suka menonjol atau menjadi “pemain utama”. Saya lebih suka mendukung di “balik layar” saja, terutama hal pendanaan. Selama saya masih bisa, masih mampu dan sehat untuk melayani Tuhan, saya akan tetap melayani Dia.
Bagi saya, kita melayani dengan segenap hati, sekalipun kelihatannya untuk orang lain, tetapi sesungguhnya itu akan kembali kepada kita.Baik itu berupa berkat finansial, kesehatan dan berkat-berkat jasmani dan rohani lainnya.  Tujuannya ialah supaya kita semakin dekat dengan Tuhan. Orang lain memang diberkati oleh pelayanan kita, tetapi sesungguhnya kita yang meiayani, lebih diberkati. Uang, kakayaan dan harta, bukanlah tujuan hidup. Bagi saya, itu hanya sebuah lintasan hidup.

YES : Bagaimana kemajuan bisnis Anda saat ini?
HERPY:
Sampai saat ini, perusahaaan yang dipercayakan kepada saya, semakin berkembang. Kami sudah mengerjakan lima proyek yang cukup besar dan masih ada dua proyek lagi yang sedang menunggu untuk dikerjakan. Proyek terbesar adalah penggarapan perumahan di kawasan Parit H. Muksin, yang membutuhkan perputaran dana sekitar Rp. 15 M dan dua perumahan di kawasan Sungai Raya Dalam, dengan perputaran dana sekitar Rp.30 M. Selain itu, kami ada dua lahan yang harus digarap. Belum lagi di tempat lain. Jika berbicara mengenai jangka panjang pekerjaan, itu masih sangat banyak yang haus kami kerjakan. Semuanya sedang menunggu giliran untuk digarap. Melihat semua ini, terkadang saya merenung, sebenarnnya siapakah saya, sampai Tuhan mempercayakan hal-hal yang sedemikian rupa. Tadinya saya tidak pernah berpikir akan menjadi seperti sekarang ini.
Terkadang saya terkesima melihat perbuatan Tuhan yang sungguh luar biasa ini. Bahkan sampai menangis, sekalipun saya bukan orang yang melankolis dan gampang menangis.  Saya tidak pernah meminta sesuatu apapun kepada Tuhan, tetapi Dia tetap mempercayakan pekerjaan-pekerjaan yang besar, baik itu pelayanan kerohanian, maupun pekerjaan sekuler.
Saya hanya berpikir untuk menjadi orang biasa saja, menjadi karyawan daan hidup dari gaji. Tetapi Tuhan mempercayakan saya sesuatu hal yang luar biasa, seperti mimpi saja. Menjadi direktur dari sebuah perusahaan yang berkembang pesat. Jika melihat keadaan sekarang ini, untuk hidup mewah, memiliki rumah dan mobil mewah, tidaklah terlalu sulit bagi saya. Tetapi saya tahu diri, semuanya adalah karunia dari Tuhan.
Saya tetap menikmati rumah dan mobil yang sederhana. Saya tidak bisa menggunakan harta untuk membeli hal-hal yang mewah, sekalipun itu bisa saya lakukan. Bagi saya, yang penting ada rumah dan kendaraan yang memadai, cukuplah. Saya lebih mementingkan pekerjaan Tuhan di gereja. Bukankah itu juga membutuhkan dana?

YES : Bagaimana Anda bertemu istri Anda dan akhirnya menikah?
HERPY: 
Tahun 2005, saya berjumpa dengan istri (ketika itu masih calon istri - red) di gereja. Waktu itu ada acara doa pemuda di gereja, dan saya berkenalan dengan Lisa. Setelah berkenalan pun, kami menjalankan hubungan hanya sebatas pertemanan biasa.
Tahun 2006 kami mulai berkomitmen untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Artinya, kami mulai belajar mengenal satu sama lain secara mental, atau jiwa. Belajar mengenal keluarga masing-masing. Kami komitmen untuk menjaga kekudusan hubungan ini. Selama berpacaran, kami tidak pernah berpegangan tangan, apalagi ciuman. Jadi kami berpacaran benar-benar hanya untuk saling mengenal saja, tidak pernah saling memanfaatkan dan menuntut. Kami belajar saling memahami dan saling percaya. Dari awal komitmen, kami sudah merencanakan kapan menikah, melakukan segala persiapan yang perlu.
Ketika itu, keluarga dari calon istri, belum mengenal Yesus. Lisa sendiri pun, baru bertobat dan mengenal Tuhan. Oleh karena itu, ada sedikit tantangan, baik dari keluarga saya, maupun keluarga calon istri. Tapi saya menganggap, itu terjadi karena keluarga masing-masing belum saling mengenal secara mendalam. Tapi puji Tuhan, semua tantangan itu bisa diselesaikan dengan baik.
Setelah mendapat rekomendasi dari leader di komunitas sel masing-masing, pada bulan Februari 2006, kami mendapat pengayoman dari Bapak Gembala. Akhirnya, kami menikah dan mengadakan pemberkatan pernikahan di Gereja, pada 21 Desember 2007. Di hari H pernikahan, kami baru berani bergandengan tangan. Ciuman pertama kami adalah ketika Upacara Pemberkatan Nikah.

YES : Kehidupan setelah menikah?
HERPY :
Setelah menikah, kami tinggal di sebuah rumah kontrakan. Istri saya masih bekerja waktu itu, sehingga untuk kebutuhan sehari-hari, masih bisa terpenuhi. Sampai Tuhan mulai menjawab pergumulan-pergumulan kami. Puji Tuhan, karena pertolongan-Nya, semua dapat dilewati. Kami bisa keluar sebagai pemenang.

YES : Bagaimana kehidupan keluarga Anda sekarang?
HERPY :
Hidup keluarga kami saat ini juga berjalan dengan harmonis. Sekalipun kami juga menghadapi konflik, tetapi dapat diselesaikan dengan baik. Saya bersyukur jika Tuhan memberikan tulang rusuk yang sangat tepat dan luar biasa. Setaip konflik selalu kami usahakan untuk diselesaikan hari itu juga. Memang, sejak kami menikah, banyak terjadi gesekan satu sama lain. Maklumlah, penyesuaian. Tapi, puji Tuhan, hmpir lima tahun terakhir ini, kehidupan keluarga kami semakin luar biasa. Sampai saat ini, kami telah dikaruniakan 2 anak.
Dengan orang tua, saya juga mengalami pemulihan yang luar biasa. Di atas, saya menceritakan bagaimana pahitnya hidup bersama papa saya. Tetapi ketika bertobat, saya mengalami pemulihan hati Bapa. Dengan kasih Tuhan, saya mengampuni dan menerima kembali papa. Di hari tuanya saat ini, saya merawat papa. Saya mengajak papa tinggal dengan kami. Karena papa sakit-sakitan, saya yang memandikannya.
Jika mengulang masa lalu, betapa bencinya saya dengan papa karena kekerasan yang pernah saya terima. Tetapi sekarang, saya bisa memandikannya. Inilah luar biasanya kasih Tuhan. Jika dilihat, sebelum bertobat, saya memiliki dendam yang besar dengan papa. Tapi puji Tuhan, saya bisa dipulihkan dan menerima beliau.

YES : Untuk memberkati para pembaca, adakah kiat-kiat khusus untuk mencapai kesuksesan, yang telah Anda praktekkan?
HERPI:
1.        Miliki komunikasi dan relasi yang baik dengan Tuhan.
2.        Miliki kerendaahan hati untuk tunduk kepada Tuhan dan otoritas di atas kita (seperti gembala, orang tua, pimpinan, dan orang yang dituakan).
3.        Jangan lari dari masalah, tetapi hadapi masalah sengan berani bersama Tuhan.
4.        Miliki dan lakukan prinsip MAKSIMAL dan VIP.
MAKSIMAL ialah: miliki Mimpi, Aksi, Kemampuan, Semangat, Integritas iman, Mulai dari diri sendiri, Akuntabilitas, dan Loyalitas. Sedangkan VIP ialah Visi, Iman dan Perbuatan. Miliki visi, lalu Imani (percaya) kalau akan terwujud dan tindak lanjuti dalam Perbuatan. Sampai sekarang, saya masih setia melakukan kedua prinsip ini.
5.        Bekerja, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23).
Saya tidak bekerja untuk mencari kekayaan, tidak juga untuk diri sendiri dan keluarga, bukan juga untuk pimpinan, tetapi seperti untuk Tuhan. Meskipun hasil dan dampaknya memang dinikmati oleh apa yang saya sebutkan tadi.
6.        Miliki rasa takut akan Tuhan.
Walaupun dalam pengalaman, saya sering mengalami ketakutan akan masalah, tetapi sebenarnya ketakutan itu harus diarahkan kepada Tuhan. Dengan rasa takut kepada Tuhan yang mendalam, akan membuat kita takut melakukan dosa. Saya diberikan kekuasaan mengelola harta yang demikian banyak. Kesempatan untuk korupsi dan kejahatan keuangan lainnya, sangat terbuka lebar bagi saya. Tetapi karena takut akan Tuhan dan saya memmiliki prinsip ke 5 atas, maka saya mampu menguasai diri tidak melakukan semua itu.
Saya menggunakan asset dan harta perusahaan, hanya untuk membesarkan perusahaan itu sendiri dan melalui perusahaan, bisa menjadi berkat bagi orang-orang dalam banyak hal. Saya juga tidak pernah minta mobil kepda abang saya, yang juga komisari perusahaan, tetapi tiba-tiba saya dikasih. Mobil yang diberikan, itulah yang saya gunakan sampai sekarang. Kita tidak perlu meminta, karena saya yakin, ada waktunya Tuhan untuk memperlengkapi kita dengan hal-hal yang kita butuhkan.
7.        Menghargai setiap proses yang harus dilalui.
Saya menghargai tahap demi tahap yang harus saya lalui, karena saya tahu, setiap tahap itu, membentuk dan membawa saya mencapai tujuan Tuhan. Dengan melewati setiap tahapan itu, saya menjadi kuat dan mengerti kehendak Tuhan. Dari sinilah saya belajar untuk menghargai orang lain, menghargai atasan, menghargai karyawan dan para tukang, menghargai hamba-hamba Tuhan, lebih memperhatikan dan membantu orang lain.

YES : Apa visi Anda selanjutnya?
HERPY :
Dalam pekerjaan, perusahaan kami memiliki visi untuk membangun sebuah kota satelit mandiri. Rencananya akan dinamai, “Hosanna City”, sebuah kota dengan prasarana lengkap seperti Mal, Hotel, Rumah Sakit, Sekolah bertaraf internasional dari play group sampai perguruan tinggi, proyek pariwisata, dan segudang fasilitas lainnya. Inilah impian kami. Dan kami sedang bergerak kesana. Modalnya mungkin diperlukan triliunan rupiah. Tapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dan bagi orang kepercayaan-Nya. AMIN!

Saat ini, Bp.Herpiyanto adalah Direktur Utama PT. Hosana Utama, sebuah perusahaan Property yang dibangun oleh Bp. Ayub Haryanto, yang menjabat sebagai Komisaris Utama perusahaan yang sama.
Beliau memiliki seorang istri, Lisa Junita (27). Pasangan yang berbahagia ini telah dikaruniakan seorang putra, Jordan Christian Andahersa (3) dan putri, Joylin Elora Christy Andahersa (5 bulan). Mereka berdomisili di Pontianak dan sampai saat ini, aktif melayani di Gereja Sungai Yordan, Pontianak (Psalm 21 Successful Community)
T A M A T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar